Sampai Dimana Tuhan Melindungi Kita ?
Banyak orang berpikir bahwa Tuhan akan selalu melindungi, baik harta, kekayaan, kesehatan, orang-orang yang kita kasihi dan terutama nyawa kita. Kalau kita berpikir bahwa Tuhan selalu melindungi apa yang menurut kita harus dilindungi, maka berarti kita menjadikan Tuhan hanya sebagai “centeng” (pengawal dan penjaga seperti hansip atau anjing penjaga) semata-mata.
Inilah yang dilakukan banyak orang. Mereka merasa sah-sah saja melakukan hal tersebut dan hal itu merupakan sesuatu yang proporsional. Bukankah Tuhan adalah pelidung kita? Orang-orang Kristen seperti ini adalah orang Kristen yang belum dewasa. Orang Kristen seperti ini ditandai dengan sikap hati seperti berikut:
a. Tidak menghayati bahwa dunia ini tidak akan pernah bisa menjadi Firdaus (tempat yang nyaman). Ia selalu berusaha sebisa-bisanya untuk dapat menikmati kenyamanan dari segala fasilitas dunia ini.
b. Tidak mengerti bahwa dunia ini adalah persinggahan sementara untuk menjadi tempat latihan guna persiapan masuk Kerajaan-Nya
c. Tidak menyadari bahwa Tuhan adalah Bapa yang mendidik dan Guru yang mengajar.
d. Mencari keuntungan diri sendiri (opportunis) dengan memanfaatkan Tuhan
e. Tidak mengerti bahwa damai sejahtera yang sesungguhnya adalah damai sejahtera yang mengalir dalam jiwa oleh kehadiran Tuhan dan kebenaran-Nya, bukan karena fasilitas dunia ini.
Pertanyaan serius yang kita perlu perkarakan adalah apakah ada tokoh iman yang menjadi kekasih Tuhan yang tidak mengalami kesulitan?
- Abraham harus kehilangan kesenangan tinggal di Urkasdim dan Ia tidak pernah menemukan gantinya yang serupa
- Yusuf harus kehilangan kesenangannya tinggal dengan ayah yang sangat mengasihinya. Ia kehilangan harga diri, menjadi budak bahkan nama baik karena fitnah nyonya Potifar yang menuduh Yusuf hendak memperkosanya.
- Musa tidak dilindungi Tuhan dari amukan Firaun, maka ia harus melarikan diri dari Mesir.
- Daud harus kehilangan sanak famili dan hidup bertualang sebagai pengembara, nama baiknya rusak bahkan dicap gila, ketika ia harus berpura-pura gila demi keselamatan nyawanya.
- Ayub harus kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya bahkan dia dikhianati oleh istrinya sendiri.
TUHAN LEBIH MEMPERHATIKAN KARAKTER DAN HARI ESOK
Tidak sanggupkah sebenarnya Tuhan melindungi kekasih-kekasihNya ini supaya tidak mengalami penderitaan dan keterhilangan apa yang dia kasihi. Tentu sanggup, tetapi Tuhan lebih tertarik melindungi karakter atau kehidupan rohani kita dari pada harta kekayaan kita. Bahkan kadang-kadang Tuhan mengorbankan segala sesuatu dalam hidup kita guna pembentukan kedewasaan dan kesempurnaan kita. Jadi tidak selamanya Tuhan melindungi segala sesuatu yang ada pada kita demi kepentingan kita sendiri. Sebaliknya Tuhan bisa mengorbankan apa saja yang ada pada kita termasuk kekayaan, harta, kesehatan dan orang-orang yang kita kasihi demi kehidupan rohani atau karakter kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya dan menjadi sahabat Tuhan yang harmonis. Sebagai contohnya dalam kisah hidup Ayub. Dia menyaksikan, bahwa ketika ia sudah mengalami keterhilangan dan penderitaan yang begitu berat maka hasilnya adalah:
- Ia menjadi lebih dewasa dan benar. Inilah yang dikatakan sebagai “akan timbul seperti emas” (Ayub 23:10)
- Ia mengalami Tuhan secara pribadi. Dalam kesaksiannya ia berkata: hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayub 42:5).
Apa yang terjadi dalam hidup Ayub adalah respon Tuhan terhadap kesungguhan Ayub mencari Tuhan. Dalam Ayub 1 ditunjukan usahanya untuk mencari Tuhan atau bersungguh-sungguh dalam berperkara dengan Tuhan. Ia adalah orang yang saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1). Tetapi dimata Tuhan ia belum murni. Ketidakmurniannya nampak dalam apa yang ditulis di Ayub 1:5. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati”. Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.
Tindakan Ayub ini sangat agamawi dan bisa dipandang sempurna benar dimata manusia. Tetapi Allah memandang Ayub harus keluar dari hidup keagamaannya dan berdiri dipihak Tuhan yang hanya memikirkan perkara-perkara sorgawi. Inilah kemurnian itu. Tindakan Ayub selama itu masih usaha untuk “bergandeng dengan Tuhan” untuk memperoleh keuntungan dari padaNya. Setelah proses yang sangat menyakitkan dan menyengsarakan barulah Ayub menjadi murni Dalam 2Korintus 4:16-18. sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, karena yang kelihatan hanya sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. Kalimat penting yang kita hendak perhatikan adalah “penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal”. Disingkapkan oleh Paulus adanya penderitaan yang “mengerjakan” kemuliaan kekal. Kita akan menggali maksud ayat ini, sebab ayat ini merupakan mutiara kebenaran Firman Tuhan yang sangat berharga. “Penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal”. Dalam 2Korintus 4:17 kata penderitaan terjemahan dari “thlipsis” yang bertalian dengan kata “thlipbo”. Kata “thlipsis”bisa diterjemahkan sebagai penderitaan (affiliction); kesedihan yang mendalam (anguish); burdened (beban); persecution (aniaya); tribulation (kesengsaraan). Kata “thlipsis” juga bisa berarti “tekanan”.
“Penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal”. Kata kedua yang kita pelajari adalah “mengerjakan”. Mengerjakan disini artinya “menyebabkan, membangun atau membentuk” dari kata “katergatazetai” (Ing. Cause, perform, work). Ada jenis penderitaan yang mengerjakan atau membangun atau membentuk kemuliaan kekal. Dalam hal ini kemuliaan kekal tidak diberikan cuma-cuma, tetapi melalui sebuah proses “penderitaan” yang harus dialami orang percaya.
Sayang sekali banyak orang Kristen berpikir bahwa keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus didalamnya otomatis termasuk kemuliaan kekal. Hal ini keliru sekali. Tanpa pertumbuhan yang normal dan pelayanan kepada Tuhan Yesus yang melibatkan seluruh kekuatan hidupnya. Tentu mereka tidak mengerti apa artinya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi.
Dalam Roma 8:18 Paulus mengatakan bahwa penderitaan yang kita alami hari ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kita alami nanti. Pernyataan ini menandaskan adanya penderitaan mendatangkan “kemuliaan”. Dengan pernyataan ini Paulus meneguhkan hati orang percaya agar tetap bertahan dalam penderitaan agar kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi orang percaya yang setia tetap menjadi bagiannya. Masalahnya kemudian, apakah kita memberi diri untuk dibentuk Tuhan menjadi pribadi yang dilayakkan menjadi anggota kerajaan Allah hari ini dan masa depan? Kebodohan banyak diantara kita hari ini adalah tidak mengerti apa hidup itu, mereka hanya mengerti kebutuhan fisiknya hari ini, mereka hanya mengerti kebutuhan manusia menurut ukuran dunia. Tentu mereka tidak belajar mengenal jalan Tuhan.
Contoh yang paling jelas adalah ketika Tuhan membiarkan duri dalam daging melekat dalam diri Paulus. Satu sisi menjadi penderitaan bagi paulus tetapi pihak lain menjadi alat pengendali supaya Paulus tidak menjadi sombong. Sekalipun Paulus sudah memohon berulang kali tetapi Tuhan tidak mengabulkan doanya (tentang hal itu aku sudah tiga kali aku berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaku menjadi sempurna. “Sebab itu terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi Aku, (2Kor 12:8-9). Tuhan mengijinkan utusan iblis tetap menetap menjadi sesuatu yang menyakitkan dan tidak menyenangkan bagi Paulus. Sebagai respon atas doa Paulus Tuhan memberi anugerah, yaitu kesanggupan untuk memikulnya atau bertahan dalam kehidupan yang membuat duri dalam daging. Hal ini terjadi agar Paulus terhindar dari neraka kekal.
- Setelah Abraham kehilangan kesenangan tinggal di Urkasdim dan ia tidak pernah menemukan gantinya yang serupa (Kej 12; Ibr 11:13-15). Ia digiring hanya merindukan kerajaan-Nya.
- Setelah Yusuf kehilangan kesayangannya tinggal dengan ayah yang sangat mengasihinya, kehilangan harga dirinya, menjadi budak bahkan nama baik karena fitnah nyonya Potifar yang menuduh Yusuf hendak memperkosanya (Kej 37-39). Ia menjadi penguasa yang bijak dan menyelamatkan banyak orang.
- Setelah Musa melarikan diri dari Mesir (Kel 3:1-25). Dari seorang pangeran menjadi gembala domba, barulah ia menjadi pemimpin besar.
- Setelah Daud kehilangan sanak famili dan hidup bertuaklang sebagai pengembara, nama baiknya rusak bahkan menjadi orang dicap gila (1Sam16-18) akhirnya ia menjadi raja yang melambangkan Mesias.
- Setelah Ayub kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya bahkan ia dikhianati oleh istrinya sendiri (Ayub 1:1-22; 2:1-13). Ia menjadi seperti emas murni dan mengenal Tuhan dari pengalaman pribadinya sendiri.
December 3rd, 2007 at 11:13 pm
what an interesting article…bener2 membangun banget…thx!!!
cheerz ^^